Minggu, 20 Februari 2011

MENCINTAI DAN MENELADANI AKHLAK RASULULLAH SAW Khutbah Jum’at Bulan Maulid 1432 H / 2011 M

MENCINTAI DAN MENELADANI AKHLAK RASULULLAH SAW
Khutbah Jum’at Bulan Maulid 1432 H / 2011 M

أَلْحَمْدُِ للهِ الَّذِيْ نَسْئَلُهُ الرَّحْمَةَ وَاْلعَافِيَةَ يَامَنْ هُوَالله ُالَّذِيْ لآ اِلهَ اِلاَّ هُوَالرَّحْمنُ الرَّحِيْمُ أَشْهَدُ أَنْ لآ اِلهَ اِلاَّ الله ُوَحْدَه لاَشَرِيْكَ لَه وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُه وَرَسُوْلُهُ اْلمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِّلْعَالَمِيْنَ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلى هذَا النَّبِيِّ اْلكَرِيْمِ, سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى الِه وَصَحْبِه أَجْمَعِيْنَ. أَمَّابَعْدُ: فَيَآاَيُّهَااْلمُسْلِمُوْنَ رَحِمَكُمُ الله ُأُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِه لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.إِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّوَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Saat ini kita sudah berada di bulan Rabi'ul Awwal 1432 H, bulan bersejarah lagi penuh hikmah. Bersejarah, sebab di bulan ini baginda kita Muhammad Rasulullah SAW dilahirkan. Penuh hikmah, karena bulan ini diperingati dengan berbagai macam bentuk kegiatan.
          Sejarah mencatat, pada tanggal 12 Rabiul Awwal ternyata bukan cuma Nabi SAW dilahirkan, akan tetapi pada tanggal dan bulan itu juga, di tahun yang berbeda junjungan kita melaksanakan hijrah dari Mekkah ke Madinah, atas perintah Allah. Bahkan pada tanggal dan bulan yang sama dengan tahun yang berbeda itu pula beliau meninggalkan kita, pergi menghadap Allah SWT.
          Karena itulah memperingati 12 Rabiu'ul Awwal, berarti mengungkap tiga peristiwa sekaligus tentang Nabi Muhammad SAW, yaitu kelahiran, perjuangan, dan kembalinya beliau menghadap Allah SWT.
          Namun di sela-sela meriahnya peringatan Maulidirrasul di bulan ini, satu hal yang harus terus kita ingat, bahwa ternyata حُبُّ النَّبِيّ atau cinta kepada Nabi Muhammad SAW hukumnya adalah wajib, Setiap Muslim wajib hukumnya mencintai beliau, sebagaimana Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَوَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِه.
"Dari Abu Hurairah RA: Sesungguhnya rasulullah SAW bersabda : Demi jiwaku yang berada dalam kekuasaan-Nya tidak sempurna keimanan seseorang sehingga aku lebih dicintainya daripada orang tua dan anaknya."

Bahkan di dalam riwayat yang lain ada tambahan "وَالنَّاسِ اَجْمَعِيْن" Rasulullah itu harus lebih dicintai dari seluruh manusia lain.

Jamaah Jum'at Rahimakumullah.
Selanjutnya marilah kita memperhatikan firman Allah SWT berikut:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا  )الأحزاب/21(
“Sudah ada bagimu pada diri Rasulullah teladan yang baik, yakni bagi orang-orang yang mengharap  Allah dan hari akhir dan bagi orang yang banyak mengingat Allah”. (QS> Al-Ahzab : 21).

Dalam QS. Al-Ahzab, 21 di atas,  Allah mewartakan Nabi Muhammad Saw adalah uswatun hasanah, teladan yang baik. Kisah hidupnya adalah cermin spiritual dan moral bagi seluruh manusia. Kata dan lakunya menebarkan wangi kebajikan. Rasulullah adalah teladan. Ia mengajarkan umat manusia bagaimana bersabar dalam cobaan, menahan hawa amarah, membalas keburukan dengan kasih sayang.
Kala hina dan cela orang-orang Thaif menderanya, Rasulullah justru mengulas senyum dan doa kedamaian.  “Ya Rasulullah, apakah tidak sebaiknya saya timpakan gunung itu kepada mereka, “ pinta Malaikat penjaga gunung geram atas hinaan pada Rasulullah. “Tak usah wahai malaikat, mereka hanyalah orang-orang yang belum tahu. Semoga Allah membukakan hati mereka pada kebenaran”, jawab Rasulullah seraya tersenyum.
Betapa Nabi yang Agung itu mengajarkan kepada umatnya  kesabaran dan kasih sayang. Sebab, cahaya Islam akan tersingkap dengan laku dan kata yang bajik. Islam akan bercahaya dengan umatnya yang meneladani Manusia Terbaik di muka bumi ini. Kata kotor, laku kasar, caci maki dan benci  justru akan menjauhkan manusia dari cahaya Islam. Kita seyogyanya malu, jika cahaya Islam itu terhalang oleh perilaku kita yang tidak mencontoh Nabi Muhammad. Muhammad Abduh, ulama Mesir awal abad ke-20, menyindir perilaku umat Islam yang jauh dari teladan Nabi. “Al-islâmu mahjûbun bi al-muslmîn (Islam terhalang oleh umatnya)”.

Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Saudaraku yang semoga selalu mendapatkan taufik Allah Ta’ala. Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup para Nabi, tidak ada Nabi lagi sesudah beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki kedudukan yang mulia dengan syafa’at al ‘uzhma pada hari kiamat kelak. Itulah di antara keistimewaan Abul Qosim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seorang muslim punya kewajiban mencintai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dari makhluk lainnya. Inilah landasan pokok iman. Dan itulah yang harus dimiliki setiap muslim yaitu hendaklah Nabinya lebih dia cintai dari makhluk lainnya. Mari kita simak bersama firman Allah Ta’ala,
قُلْ إِنْ كَانَ أبَآؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللهِ وَرَسُولِه وَجِهَادٍ فِيْ سَبِيْلِه فَتَرَبَّصُوْا حَتّى يَأْتِيَ اللهُُ بِأَمْرِهِ وَ اللهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِيْنَ
“Katakanlah: ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (Qs. At Taubah: 24)

Ibnu Katsir mengatakan, “Jika semua hal-hal tadi lebih dicintai daripada Allah dan Rasul-Nya, serta berjihad di jalan Allah, maka tunggulah musibah dan malapetaka yang akan menimpa kalian.”
Ancaman keras inilah yang menunjukkan bahwa mencintai Rasul dari makhluk lainnya adalah wajib. Bahkan tidak boleh seseorang mencintai dirinya hingga melebihi kecintaan pada nabinya.
Pertanyaannya sekarang adalah apa tanda cinta kepada nabi SAW tersebut. Para ulama sepakat bahwa tanda cinta kepada sesuatu itu adalah sering mengingat sesuatu itu
مَنْ أَحَبَّ شَيْأً أَكْثَرَمِنْ ذِكْرِه

Setiap orang yang mencintai, hatinya selalu terkenang akan yang dicintainya, lidahnya selalu menyebut nama dan keelokannya disetiap ruang dan waktu, tanpa henti dan tanpa terlewatkan.

Jamaah Jum’at Rahimakumullah
          Ada beberapa cara untuk melatih kita agar senantiasa mengingat Rasulullah, di antaranya adalah :
v     Rajin dalam melaksanakan sunnah-sunnah Rasulullah SAW sambil mengenang bahwa apa yang ia kerjakan sekarang adalah pernah dilaksanakan oleh Rasulullah, atau dalam bahasa yang lebih indahnya adalah مُتَابَعَةً لِلنَّبِيِّ ظَاهِرًاوَبَاطِناً, mengikut kepada Nabi zhahir dan bathin. Sebagaimana diperintahkan oleh Allah SWT :
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ الله َفَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ
Katakan wahai Muhammad kepada umatmu: Jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.

Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW pada dasarnya adalah untuk belajar banyak dari perilaku beliau untuk kita tiru, turuti, dan ikuti secara konsekuen, bagaimana perkataan dan perbuatan beliau dalam kehidupan sehari-hari.
v     Memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi SAW sebagaimana hadits Nabi :
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً وَاحِدَةً صَلَّى الله ُعَلَيْهِ ِبهَا عَشْرًا
Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali niscaya Allah akan bershalawat (menurunkan rahmat) kepadanya sepuluh kali.

Membaca shalawat selain merupakan tanda cinta kepada nabi, ia juga menyebabkan turunnya rahmat Allah kepadanya. Semoga dengan rahmat Allah itulah kita nantinya akan dimasukkan oleh Allah ke dalam sorga-Nya. Amien

Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Cinta bukanlah hanya klaim semata. Semua cinta harus dengan bukti. Di antara bentuk cinta pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ittiba’ (mengikuti), taat dan berpegang teguh pada petunjuknya. Karena ingatlah, ketaatan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah buah dari kecintaan.

Penyair Arab mengatakan:
لَوٌْ كَانَ حُبُّكَ صَادِقاً َلأَطَعْتَهُ .إِنَّ المُحِبَّ لِمَنْ يُحِبُّ مُطِيْع
Sekiranya cintamu itu benar niscaya engkau akan mentaatinya
Karena orang yang mencintai tentu akan mentaati orang yang dicintainya

Akhirnya marilah kita selalu berusaha untuk terus meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad saw dengan memperbaiki akhlak, perilaku, tutur kata, sikap, dan kepribadian kita. Semoga Allah akan melimpahkan rahmat-Nya untuk kita semua amin.

أَلْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلى رَسُوْلِ اللهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ابْنِ عَبْدِاللهِ وَعَلى الِه وَصَحْبِه وَمَنْ تَبِعَ هُدَاه, أَمَّابَعْدُ: أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ, إِتَّقُوا اللهَ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وَإِذَا قُرِئَ اْلقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوْالَه وَأَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ.
أَعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ .  بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَ اللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ
بَارَكَ الله ُلِيْ وَلَكُمْ  فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِاْلآيَاتِ وَالذِّكْرِالْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَه إِنَّه هُوَالسَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. وَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ



Catatan :
1.       Koreksilah ayat, hadits, dan terjemahnya sebelum dibacakan di mimbar.
2.       Khutbah kedua siapkan sendiri.
3.       Saran dan kritik sampaikan ke Seksi Penamas Kantor Kementerian Agama Kabupaten Hulu Sungai Selatan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar